BATU BARA, Bundarantimes.com – Upaya memperkuat rantai pasok industri aluminium nasional terus dilakukan melalui penguatan operasional pelabuhan. Setiap ton kargo alumina yang masuk dan keluar terminal memerlukan pengelolaan presisi, mulai dari mekanisasi peralatan bongkar muat hingga efektivitas alur distribusi di lapangan.
Dalam rangka meningkatkan standar layanan tersebut, jajaran PT Pelabuhan Tanjung Priok melakukan kunjungan kerja dan benchmarking strategis guna bertukar pengalaman terkait sistem penanganan kargo yang aman dan efisien. Fokus utama pembahasan mencakup optimalisasi peralatan, manajemen operasional, serta penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) sebagai fondasi produktivitas.
Kunjungan ini diarahkan untuk memperkuat layanan operasional di Terminal Kijing, yang memiliki peran strategis dalam mendukung distribusi bahan baku industri pengolahan aluminium. Terminal tersebut menjadi salah satu simpul penting dalam ekosistem hilirisasi nasional, khususnya untuk komoditas alumina.
Penerapan K3 di lapangan ditegaskan bukan sekadar formalitas prosedural, melainkan bagian integral dari efisiensi dan keberlanjutan operasional. Standar keselamatan yang baik dinilai mampu menekan risiko gangguan operasional sekaligus menjaga kualitas layanan.
Kolaborasi ini menjadi langkah konkret penyelarasan standar operasional antar pelabuhan. Dengan sinergi yang terbangun, diharapkan kinerja penanganan kargo alumina semakin optimal, sehingga mampu memperkuat daya saing industri hilirisasi aluminium Indonesia di tingkat global.
Ke depan, kerja sama serupa direncanakan terus berlanjut guna memastikan sistem logistik pelabuhan berjalan adaptif, terintegrasi, dan berorientasi pada peningkatan nilai tambah industri nasional.
















