Menu

Mode Gelap

Budaya · 22 Mar 2026 15:30 WIB

Jejak Sunyi di Tengah Riuh Lebaran


 Jejak Sunyi di Tengah Riuh Lebaran Perbesar

Oleh : Alvian Khomeini, M.Si.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk membuat siapa pun tersinggung atau baper, melainkan sebagai ruang refleksi bersama dalam menyambut Idul Fitri sebuah ajakan untuk sejenak menengok kembali bagaimana kita mmaknai Lebaran di tengah perubahan zaman.

Setiap tahun, Idul Fitri hadir sebagai penanda kemenangan spiritual sebuah jeda dari riuhnya rutinitas duniawi untuk kembali pada kesederhanaan dan kejernihan hati. Ia mengingatkan manusia pada hakikatnya: rapuh, penuh khilaf, namun selalu diberi ruang untuk memperbaiki diri.

Namun, di tengah kemuliaan makna tersebut, perlahan muncul wajah lain yang tak kalah dominan wajah perayaan yang semakin akrab dengan logika gaya hidup dan konsumsi.

Tradisi bermaaf-maafan, misalnya, tetap menjadi inti dari Idul Fitri. Ia adalah jembatan yang menyambung kembali relasi yang sempat retak oleh waktu dan ego. Tetapi dalam praktiknya, makna ini kerap bertransformasi menjadi formalitas sosial. Ucapan maaf terucap dengan rapi dan sopan, namun tak selalu diiringi kedalaman rasa. Seolah-olah, permohonan maaf telah menemukan bentuk paling praktisnya: cukup diucapkan, tanpa perlu benar-benar dirasakan.

Di sisi lain, perayaan Idul Fitri juga semakin lekat dengan ekspresi kemapanan material. Meja makan yang berlimpah, pakaian baru yang serasi, hingga tradisi berbagi dalam amplop menjadi lanskap yang sulit dipisahkan dari hari raya.

Semua itu pada dasarnya tidak keliru bahkan dapat menjadi simbol syukur dan kebahagiaan. Namun persoalan muncul ketika ukuran kebahagiaan mulai bergeser: dari rasa cukup menjadi dorongan untuk tampil lebih, dari keikhlasan menjadi pembuktian. Di titik inilah, nilai-nilai kapitalisme secara halus meresap ke dalam ruang-ruang tradisi.

Perayaan yang sejatinya bersifat spiritual perlahan berjalan berdampingan dengan dorongan konsumsi. Diskon musiman, promosi besar-besaran, hingga tren gaya hidup menjelang hari raya menciptakan ritme baru bhwa Idul Fitri juga menjadi momentum ekonomi, di mana kebutuhan dan keinginan kerap bertukar tempat tanpa disadari.

Namun menariknya, masyarakat tidak sepenuhnya kehilangan kesadaran akan makna awalnya. Di tengah hiruk pikuk tersebut, masih ada kerinduan untuk kembali pada esensi: benar-benar memaafkan, menyederhanakan, dan merayakan dengan hati yang ringan. Hanya saja, kerinduan ini kerap tenggelam di antara tuntutan sosial yang terus berkembang.

Pada akhirnya, Idul Fitri bukanlah tentang menolak perubahan atau memusuhi modernitas. Ia adalah tentang menjaga keseimbangan antara tradisi dan perkembangan zaman, antara makna dan ekspresi, antara kebutuhan dan keinginan.

Sebab, yang membuat Idul Fitri tetap bernilai bukanlah seberapa meriah ia dirayakan, melainkan seberapa dalam ia dimaknai.

Dan mungkin, di titik inilah kita perlu sejenak berhenti,  bukan untuk mengurangi kebahagiaan, tetapi untuk mengembalikannya ke tempat yang semestinya. Karena bisa jadi, kemenangan yang paling sejati bukan terletak pada apa yang berhasil kita miliki, melainkan pada apa yang dengan tulus mampu kita lepaskan.

Artikel ini telah dibaca 28 kali

Iklan 2
Baca Lainnya

Sambut Hari Jadi Desa Simpang Dolok, Wabup Syafrizal Hadiri Kenduri Kampung

28 Agustus 2026 - 19:38 WIB

Polres Batu Bara Gelar Maulid Nabi 1448 H, Santuni Anak Yatim dan Santri

27 Agustus 2026 - 23:25 WIB

Semarak HUT ke-81 RI, Perlombaan Tradisional di INALUM Penuh Keceriaan

19 Agustus 2026 - 13:10 WIB

Jelang HUT ke-81 Kemerdekaan RI, Forkopimda Batu Bara Gelar Ziarah dan Tabur Bunga di Makam Pejuang

17 Agustus 2026 - 10:33 WIB

Bupati Baharuddin Dukung Pelestarian Budaya Melayu Melalui Gebyar Bertanjak Jilid 7 Tahun 2026

7 Agustus 2026 - 20:57 WIB

Malam Pesona Budaya Batu Bara Dipadati Ribuan Penonton, Bupati Baharuddin Apresiasi Antusias Masyarakat

24 Juli 2026 - 07:12 WIB

Trending di Budaya
Iklan 1
Presiden RI 2024