Menu

Mode Gelap

Opini · 27 Apr 2026 22:04 WIB

Prabowo, Penasehat Khusus, dan Kejernihan dalam Kepemimpinan


 Prabowo, Penasehat Khusus, dan Kejernihan dalam Kepemimpinan Perbesar

OPINI, Bundarantimes.com – Pelantikan Hasan Nasbi sebagai Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi hari ini terasa lebih dari hanya seremoni pengisian jabatan. Ada pesan yang ingin ditegaskan, bahwa kepemimpinan membutuhkan kejernihan berpikir, dan kejernihan itu tidak lahir sendirian.

Di titik ini, keputusan Presiden Prabowo Subianto menunjukkan karakter kepemimpinan yang matang. Ia tidak menempatkan dirinya sebagai pusat dari segala jawaban, melainkan sebagai pengarah yang memahami pentingnya ekosistem pemikiran di sekelilingnya. Memilih penasehat khusus, terutama di bidang komunikasi, adalah langkah yang mencerminkan kesadaran bahwa setiap kata yang keluar dari seorang presiden memiliki bobot, arah, dan dampak yang luas.

Hasan Nasbi hadir bukan hanya sebagai penyusun narasi, tetapi sebagai penyaring gagasan. Di tengah dinamika publik yang semakin cepat dan kompleks, komunikasi tidak lagi sekadar soal menyampaikan, melainkan memastikan pesan sampai dengan utuh, dipahami dengan benar, dan tidak menimbulkan kegaduhan yang tidak perlu. Di sinilah peran penasehat khusus menjadi penting menjaga agar setiap pernyataan tetap jernih, terukur, dan berkelas.

Presiden Prabowo Subianto melantik Hasan Nasbi sebagai Penasihat Khusus Presiden RI Bidang Komunikasi dalam acara pelantikan sejumlah pejabat negara di Istana Negara, Jakarta, Senin (27/4/26).

Kepemimpinan seperti ini menunjukkan ketenangan. Seorang pemimpin yang percaya diri tidak merasa berkurang wibawanya ketika membuka ruang bagi penasehat. Justru sebaliknya, ia memperkuat pijakannya. Presiden Prabowo, melalui langkah ini, memberi gambaran bahwa kekuasaan bukan tentang berdiri sendiri, melainkan tentang merangkul pikiran-pikiran yang mampu memperkaya sudut pandang.

Ada kebijaksanaan dalam keputusan tersebut. Sebab tidak semua pemimpin bersedia memiliki “cermin” di dekatnya figur yang berani mengoreksi, mengingatkan, bahkan menahan jika diperlukan. Penasehat khusus menjadi bagian dari mekanisme itu: memastikan bahwa sebelum sebuah opini keluar ke publik, ia telah melewati proses pematangan yang layak.

Lebih jauh, ini juga mencerminkan kepemimpinan yang visioner. Presiden tidak hanya memikirkan apa yang harus dilakukan, tetapi juga bagaimana hal itu dipahami oleh masyarakat. Ia sadar bahwa kebijakan yang baik perlu diiringi dengan komunikasi yang tepat. Tanpa itu, pesan bisa terdistorsi, niat baik bisa disalahartikan.

Di sinilah letak elegansi kepemimpinan. Bukan pada kerasnya suara, tetapi pada ketepatan kata. Bukan pada banyaknya pernyataan, tetapi pada kualitas makna. Dan semua itu tidak terlepas dari peran penasehat khusus yang bekerja di balik layar merapikan, menimbang, dan menyusun arah.

Pada akhirnya, langkah Presiden Prabowo melantik Hasan Nasbi sebagai penasehat khusus adalah gambaran dari kepemimpinan yang tidak hanya kuat, tetapi juga sadar diri. Kepemimpinan yang tidak tergesa, tidak reaktif, dan tidak berjalan sendiri. Sebuah kepemimpinan yang memilih untuk berpikir sebelum berbicara, dan memastikan bahwa setiap kata yang sampai ke publik adalah kata yang telah teruji.

Dan dari situlah, kepercayaan publik perlahan dibangun bukan hanya dari apa yang dilakukan, tetapi dari bagaimana semuanya disampaikan.

 

Alvian Khomeini.

Pakar Ahli DPRD Batu Bara.

Artikel ini telah dibaca 13 kali

Iklan 2
Baca Lainnya

80 Tahun Indonesia: Merdeka dari Asing, Terjajah oleh Kebiasaan Lama

17 Agustus 2025 - 00:44 WIB

Komodifikasi Idul Fitri Dan Gejala Konsumerisme

21 Maret 2025 - 19:25 WIB

IKN Terancam Rungkad, Jokowi Harus Bertanggung Jawab

30 Juli 2024 - 23:35 WIB

Kebijakan Pertahanan Indonesia: Antara Kepentingan Nasional dan Tantangan Global

11 Mei 2024 - 22:50 WIB

Pemilihan Umum Sebagai Kemerdekaan Yang Hakiki

4 Desember 2023 - 13:16 WIB

Kasus Gibran Dan Nasehat Untuk Pendukung Jokowi

28 Oktober 2023 - 13:51 WIB

Trending di Opini
Presiden RI 2024