Oleh : Alvian Khomeini, S.Pd.,M.Si
Sekretaris Tunas Indonesia Raya Kabupaten Batu Bara
OPINI, Bundarantimes.com – Pembangunan bukan hanya soal membangun gedung, jalan, atau proyek besar. Ada hal yang lebih penting: bagaimana uang negara dikelola dan sejauh mana manfaatnya kembali kepada masyarakat.
Di era Presiden Prabowo Subianto, arah tersebut terlihat dari sejumlah kebijakan yang menekankan efisiensi anggaran, penguatan ekonomi masyarakat, program Makan Bergizi Gratis, pengembangan Koperasi Desa Merah Putih, serta pemberantasan korupsi.
Sederhananya, pemerintah ingin uang negara lebih banyak digunakan untuk hal-hal yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
Anggaran yang Tidak Prioritas Dipangkas
Selama ini, sebagian anggaran pemerintah digunakan untuk perjalanan dinas, kegiatan seremonial, rapat, sewa tempat, hingga berbagai belanja pendukung lainnya.
Melalui kebijakan efisiensi, belanja yang dianggap tidak prioritas disisir dan dikurangi.
Tujuannya bukan sekedar menghemat uang, tetapi mengalihkan anggaran ke kebutuhan yang lebih penting.
Kalau uang yang sebelumnya habis untuk kegiatan yang kurang berdampak kemudian digunakan untuk pendidikan, kesehatan, pangan, infrastruktur dan pelayanan masyarakat, maka efisiensi memiliki arti yang lebih besar.
Bagi masyarakat, yang penting bukan berapa besar anggaran pemerintah dipotong, tetapi berapa besar manfaat yang akhirnya bisa dirasakan.
MBG Membuka Pasar Baru bagi Masyarakat
Program Makan Bergizi Gratis juga bukan hanya soal makanan di atas meja.
Di balik satu porsi makanan, ada petani yang menanam sayuran, peternak yang menghasilkan telur dan daging, nelayan yang menyediakan ikan, UMKM yang mengolah makanan, koperasi yang membantu distribusi, hingga tenaga kerja yang menjalankan dapur. Artinya, MBG dapat menjadi sebuah rantai ekonomi baru.
Uang pemerintah tidak hanya berhenti pada penyedia makanan, tetapi berputar dari desa ke desa dan dari satu pelaku usaha ke pelaku usaha lainnya.
Anak-anak mendapatkan makanan bergizi, sementara masyarakat memperoleh peluang ekonomi.
Tentu, semua itu tetap membutuhkan pengawasan agar pelaksanaannya transparan, tepat sasaran dan tidak dikuasai oleh segelintir pihak.
Koperasi Merah Putih dan Ekonomi Desa
Perlu diketahui bahwa, Koperasi Desa Merah Putih juga membawa gagasan yang sederhana, memperkuat ekonomi dari tingkat desa.
Selama ini, sebuah barang bisa melewati banyak tangan sebelum sampai kepada masyarakat. Setiap mata rantai tentu memiliki biaya dan keuntungan masing-masing.
Dengan koperasi yang dikelola secara profesional, sebagian rantai distribusi tersebut diharapkan bisa dipangkas.
Petani bisa memperoleh akses pasar, Masyarakat desa memiliki tempat mendapatkan kebutuhan pokok. Pelaku usaha lokal memiliki ruang untuk berkembang.
Jika dikelola dengan baik, koperasi bukan hanya tempat membeli dan menjual barang, tetapi dapat menjadi mesin ekonomi baru di desa.
Korupsi: Uang Rakyat Harus Kembali kepada Rakyat
Ada satu hal yang tidak boleh dilupakan dalam pembangunan yaitu korupsi.
Sebesar apa pun anggaran yang disiapkan pemerintah, manfaatnya akan berkurang apabila sebagian uang negara bocor akibat praktik korupsi.
Karena itu, pemberantasan korupsi bukan sekedar menangkap orang yang melakukan kejahatan. Yang tidak kalah penting adalah memastikan uang dan aset yang berasal dari tindak pidana dapat dipulihkan. Itulah yang dilakukan Presiden Prabowo.
Pembahasan RUU Perampasan Aset yang masih berlangsung di DPR menjadi salah satu bagian dari agenda tersebut.
Pesannya sederhana:
uang negara bukan milik pejabat, bukan milik pengusaha tertentu, dan bukan milik kelompok tertentu. Uang negara adalah uang rakyat.
Pembangunan Bukan Sekedar Menghabiskan Anggaran
Pada akhirnya, masyarakat tidak membutuhkan pemerintah yang hanya pandai menghabiskan anggaran. Masyarakat membutuhkan anggaran yang menghasilkan manfaat.
Jalan yang dibangun harus bisa digunakan. Sekolah harus memberikan pendidikan yang baik. Program pangan harus membantu masyarakat. UMKM harus mendapatkan kesempatan. Petani dan nelayan harus memiliki pasar. Dan uang negara harus dijaga dari kebocoran.
Karena itu, perubahan terbesar dalam pembangunan bukan hanya terlihat dari berapa banyak uang yang dikeluarkan pemerintah.
Tetapi dari pertanyaan yang jauh lebih sederhana:
“Apa yang masyarakat dapatkan dari uang negara tersebut?”
Jika anggaran yang dihemat dapat dialihkan ke program yang produktif, jika rantai ekonomi semakin banyak melibatkan masyarakat, jika distribusi semakin terbuka, dan jika kebocoran uang negara semakin ditekan, maka pembangunan memiliki arah yang lebih dekat dengan kebutuhan rakyat.
Pada akhirnya, masyarakatlah yang akan merasakan dan menilai hasilnya.
Pembangunan yang baik bukan sekedar terlihat besar dari atas, tetapi terasa manfaatnya sampai ke bawah.
Jadi kesimpulannya, membangun negeri bukan perkara seberapa cepat kita sampai. tetapi seberapa kuat fondasi yang kita tinggakan.
Perubahan besar lahir dari langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan sabar konsisten, danpenuh arah.
Begitupun, kemajuan tidak selalu terdengar seperti langkah yang cepat. Kadang ia tumbuh diam-diam, perlahan, tetapi mengubah banyak kehidupan.
Kemajuan membutuhkan keberanian untuk bergerak, tetapi juga kebijaksanaan untuk mendengar.
Kritik? Wajar. Karna kritik bukan lawan pembangunan, ia adalah cermin agar setiap langkah tetap berada pada arah yang benar.
Sebagai Rakyat, kita harus optimis pada Pemerintahan Prabowo, Untuk Indonesia Emas.















