Menu

Mode Gelap

Opini · 19 Jul 2023 14:22 WIB

Paradoks Pencapresan Ganjar Pranowo Yang Diragukan Oleh Kader PDIP Sendiri


 Foto : Kompas.com Perbesar

Foto : Kompas.com

OPINI, Bundarantimes.com – Kritik tajam untuk internal PDIP yang tidak kompak bagi entitas partainya untuk dukung keputusan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Pada akhirnya tidak semuanya kader PDIP tegak lurus keputusan PDIP mencapreskan Ganjar Pranowo sebagi calon presiden 2024 yang resmi diusung partai berlogo moncong putih ini. Banyak kader PDIP yang mencoba melawan harus berakhir dengan skor pemanggil ke kantor DPP PDIP. Namun tidak membikin surut bagi kader PDIP untuk melawan lagi.

Geger dukung mendukung capres kembali menimpa kader internal PDIP. Gejolak demi gejolak manuver politik yang berseberangan dengan DPP PDIP sering terjadi dan muncul sedemikian rupa hingga publik curiga dan bertanya seberapa serius entitas PDIP memberikan dukungan Pencapresan ke Ganjar Pranowo. Jangan-jangan tebakan banyak pihak yang mengatakan PDIP mendukung Ganjar setengah hati itu benar.

Ledakan politik diinternal PDIP muncul paska pencalonan presiden 2024 secara resmi diumumkan langsung oleh Megawati Soekarnoputri selaku pemegang hak prerogatif pencapresan. Rupanya kebulatan tekad DPP PDIP mengusung Ganjar harus menghadapi riak-riak dan gelombang politik yang usil dan mengganggu kedaulatan politik Ketua PDIP Megawati Soekarnoputri.

Adanya aksi mendukung Pencapresan selain Ganjar Pranowo merupakan wujud menyalahi atau melawan kebijakan dan keputusan partai. Pembangkangan politik saat ini sedang menyulut kader-kader senior PDIP.

Setelah politikus PDIP Efendi Simbolon membuat geger dunia perpolitikan tanah air dipicu oleh aksi dukungan pencapresan ke Prabowo Subianto, aksi dan dukungan serupa terjadi lagi. Secara tersirat kepada bakal capres Partai Gerindra Prabowo Subianto kembali datang dari politikus PDIP Budiman Sudjatmiko.

Sebelumnya, Effendi Simbolon memberikan sinyal dukungan sosok yang ditujukan untuk Prabowo Subianto. Efendi Simbolon menyatakan keinginannya agar Indonesia dinakhodai pemimpin yang andal menjelang Pilpres 2024. Menurutnya, kriteria itu ada di Prabowo.

Sementara Budiman meyakini mantan Danjen Kopassus itu bisa memenangkan kontestasi Pilpres 2024, sebagaimana rilis survei di sejumlah lembaga kredibel nasional bahwa elektabilitas Prabowo paling tinggi.

Bukti nyata politisi PDIP Budiman Sudjatmiko serius mendukung Prabawo Subianto dengan melakukan safari politiknya menyambangi kediaman Menteri Pertahanan (Menhan) sekaligus bacapres Gerindra, Prabowo Subianto, kemarin malam.

Sujatmiko boleh menyamarkan diri jika kunjungannya ke Prabawo Subianto bukan atas nama Kader PDIP tetapi Budiman Sudjatmiko mengatakan kunjungannya ke Prabowo Subianto secara pribadi bukan mewakili partai, Selasa (18/7).

Dikatakan oleh Budiman menegaskan kunjungan bertujuan untuk mencairkan suasana. Isyarat dukungan Pencapresan jatuh ke Prabowo Subianto dengan melihat mimik serta gestur bicaranya Budiman menyatakan ‘kapal besar’ Indonesia butuh dikayuh orang yang paham strategi, geopolitik, maupun sejarah.

Dari ekspresi fisik dan bahasa menyatakan jika dukungan tersebut sangat jelas jika politis PDIP sudah jatuh cinta ke Prabowo Subianto. Budiman Sujatmiko dengan nada menyakinkan mengatakan jika kapal Indonesia harus dikayuh oleh orang yang paham strategi, paham geopolitik.

Menurut kepercayaan Budiman Sujatmiko bila Prabowo adalah anak bangsa yang bisa menjadi pemersatu NKRI dan mempunyai kualitas intelektual untuk berfikir bahwa bangsa untuk mencapai keberhasilan menghadapi berbagai tantangan geopolitik. Menjadi catatan kunci jika persatuan bangsa bukan hal yang patut diremehkan dalam menghadapi tantangan tersebut.

Jika dipetik kesimpulan baik Effendi Simbolon dan Budiman Sujatmiko mendukung pencalonan Prabowo Subianto lebih banyak berdalih pada argumentasi faktual bahwa perwujudan calon pemimpin bangsa ini harus dinakhodai oleh calon pemimpin dengan integrasi, dedikasi serta kecakapan teknis dan pemikiran yang brilian untuk menjaga NKRI utuh dan dapat menjamin pencapaian kesejahteraan dan keadilan masyarakat. Mereka menunjuk calon itu adalah Prabowo Subianto.

Fenomena Budiman Sujatmiko ini menjadi bagian pemikiran menarik, apakah Prabowo Subianto yang meminta untuk bergabung ke kubunya ataukah Budiman Sujatmiko yang melamar sendiri menjadi bagian tim 008?

Catatan penting bawa Budiman Sujatmiko konon disebutkan alumni UGM yang tidak lulus dan menjadi bagian poros pergerakan mahasiswa yang terlibat langsung aksi perencanaan dan pergerakan menumbangkan Rezim Orde Baru. Di zamannya , Prabowo Subianto dan Budiman Sujatmiko berada dalam kutub yang bermusuhan.

Dalam acara press conference Budiman Sujatmiko mengakui jika Prabowo Subianto adalah pihak yang berlawanan posisi.
Saya sebagai orang yang pernah berhadapan dengan beliau, tadi bertemu dengan cara pandang ini bangsa harus diselamatkan, demokrasi harus diselamatkan,” ujar Budiman pada awak media di Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, Selasa (18/7/2023).

 

Bagi Pendukung Ganjar Pranowo tulisan ini jangan bikin baper atau marah. Justru sebaliknya kita wajib mengakui jika fenomena itu ada dan nyata. Ganjar Pranowo diinternal PDIP masih ada pihak yang meragukan dan menyangsikan kualitas dan intelektualnya.

Harapkan besar bagi elite PDI P dan juga pihak luar menjadi ranah positif dan obyektif. Bangsa Indonesia adalah negara besar dengan potensi ekonomi nomor 4 di dunia, wajar Jiak akan lahir dan terciptanya calon pemimpin bangsa dengan visi dan misi kuat dan besar.

Tidak hanya pesona dan juga cutar diri ,tetapi kedalaman dan penghayatan seorang pemimpin Indonesia harus kental dan terpatri dalam dirinya. Calon pemimpin yang besar adalah mereka yang tahu ,mengerti dan berani cara pencapaian dan manajemennya sebuah visi dan misi yang sudah dibuatnya.

Siapa pun next yang akan menjadi presiden wajib menjadi diri sebagai presiden dengan visi dan misi kuat dan mendalam . Dapat mencapai dan merealisasikan.

Ditulis Oleh :
Heru Subagia, Pengamat Politik dan Sosial Alumni UGM

Artikel ini telah dibaca 125 kali

badge-check

Redaksi

Iklan 2
Baca Lainnya

Kebijakan Pertahanan Indonesia: Antara Kepentingan Nasional dan Tantangan Global

11 Mei 2024 - 22:50 WIB

Pemilihan Umum Sebagai Kemerdekaan Yang Hakiki

4 Desember 2023 - 13:16 WIB

Kasus Gibran Dan Nasehat Untuk Pendukung Jokowi

28 Oktober 2023 - 13:51 WIB

Komorbid Demokrasi Melalui Agenda Oligariki dan Politik Dinasti

19 Oktober 2023 - 19:11 WIB

Gibran Wapres dan Skenario Legacy Jokowi

14 Oktober 2023 - 10:15 WIB

78 Tahun Indonesia Merdeka Rakyat Tak Mampu Semangkin Melaju

17 Agustus 2023 - 11:47 WIB

Trending di Opini